HEADER JI

JI

5/recent/ticker-posts

Perselingkuhan Oknum Guru SDN Di Jembrana Kembali Kisruh



Jurnal Investigasi, Jembrana - Perselingkuhan yang pernah dilakukan oleh NKS (50) seorang oknum guru pada sebuah sekolah yang ada di Kabupaten Jembrana, asal Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali dengan IKS (58), seorang warga asal Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, kembali kisruh.


Perselingkuhan yang dilakukan IKS dengan NKS yang diketahui NWW (55) yang merupakan istri IKS itu sebenarnya telah pernah dimediasi oleh Perbekel (Kepala Desa) di Balai Desa Mendoyo Dangin Tukad pada Senin (13/01/2000). Dimana, dari hasil mediasi yang tertuang pada Surat Pernyataan (bermaterai) bahwa IKS dan NKS mengakui jika mereka telah menjalin hubungan asmara di luar ikatan pernikahan dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan nista itu lagi.


Perjanjian inilah yang kemudian disinyalir menjadi penyulut hingga kembali terjadinya kekisruhan, lantatan menurut NWW, ternyata IKS dengan NKS diduga masih tetap saja menjalin hubungan asmara itu. Padahal, mereka telah berjanji tidak mengulangi lagi perbuatannya, seperti apa yang tertuang dalam Surat Pernyataan bermaterai itu (hasil mediasi). Sehingga, NWW menjadi marah ketika mendapati suaminya (IKS) berada di rumah NKS, pada Rabu (13/10/2021). NWW kemudian memaki-maki mereka. Merasa tidak terima, NKS selanjutnya memberitahukan kejadian itu kepada Aparat Desa.


Namun, hal yang terkesan lucu justru terjadi. Dimana, lantaran tindakannya itu, NWW selanjutnya diminta agar Mecaru (Upacara Yadnya Pembersihan) di Perempatan Banjar atau Desa Adat oleh Kelihan Adat Banjar Tengah, Desa Adat Mendoyo Dangin Tukad. Di samping Mecaru, NWW juga dikenakan sanksi berupa 1 kwintal beras.


Perbekel (Kepala Desa) Mendoyo Dangin Tukad, I Made Oka Semarajaya saat dikonfirmasi di kantornya pada Selasa (19/10/2021), membenarkan permasalahan tersebut. Menurutnya, Kelihan Adat atau pihaknya menerapkan apa yang menjadi Perarem (Peraturan) Desa terhadap NWW dan untuk membuat efek jera lantaran tindakannya itu disinyalir sudah sering dilakukan NWW, hingga dianggap telah mengganggu ketertiban.


Sementara itu, I Komang Nastra (50), adik dari NWW mengatakan, seharusnya pelaku perselingkuhan inilah yang Mecaru, karena tindakan nista itu pastinya telah ngeletehin (mengotori) Desa, apalagi salah satu diantaranya adalah seorang tenaga pendidik. Menurutnya, terlebih NKS itu adalah seorang guru tidak sepantasnya melakukan perbuatan hina itu.


"Ini terkesan lucu, wajar kakak saya marah-marah, dan mestinya pelaku perselingkuhan itulah yang harusnya mecaru, tetapi kenapa mesti kakak saya. Lagian kakak saya kan tidak melakukan perusakan ataupun penganiayaan, mungkin ia hanya meluapkan kekesalannya saja, dan itupun terukur dengan tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap siapapun. Pastinya kakak saya kecewa, karena mereka dianggap telah mengingkari dari apa yang tertuang dalam Surat Pernyataan yang dulu pernah dibuat oleh mereka", pungkas Nastra.


Nastra berharap, jika ingin membuat NWW tidak marah-marah lagi atau katakanlah itu dinilai membuat kekisruhan ke rumah NKS, hendaknya Perbekel atau siapapun yang berwenang agar memberikan sanksi tegas kepada pelaku, bukannya kepada NWW, lantaran hal ini terjadi pastinya karena ada sebab akibat.


"Bagaimana bisa, yang selingkuh aman-aman saja, sementara NWW yang bisa saja dikatakan sebagai korban, kok malah dia yang disanksi dan didendakan. Apalagi NKS kan seorang guru yang harusnya menjadi tauladan, lalu bagimana bisa mendidik generasi kalau ia menjadi Pelakor", tutup Nastra.


(Sis/Wis)

Posting Komentar

0 Komentar